Friday, June 25, 2010

Medan : 4-8 Juni 2010 (2)

Day 3 
Hari ketiga di medan, kami memutuskan utk menyambangi danau toba. Rencana awalnya adalah semalam di danau toba, lalu singgah di air terjun sipiso-piso dengan rute berangkat medan-pematang siantar-parapat-danau toba dan rute pulang danau toba-parapat-pematang siantar-kaban jahe-brastagi-medan. Keliatan memungkinkan bila dilihat dari peta, kita liat kenyataannya nanti ;)

Info dari “orang asli medan” bis ke parapat paling pagi itu jam 5, dengan jarak tempuh medan-parapat yang 5 jam, itung2an saya sampai sana kurleb jam 11 siang, pas dengan jadwal kapal ferry yang jam 12.30wib. berhubung males bangun pagi agak ngeri dengan terminal di medan di pagi hari, kami memutuskan utk naik bisa agak siang, jam 7 pagi.  Jadilah jam 6 lewat kami sudah sampai di pool bis dengan diantar mas eko. Demi efisiensi, barang bawaan kami bagi 2, kami cukupkan hanya membawa 1 baju ganti, perlengkapan mandi dan perbekalan makanan *dengar2 agak sulit mencari makanan halal di samosir* sisanya kami titipkan ke “orang asli medan” hehehe…. Ternyata bisnya telat, pas kita sampai di poolnya pun blm buka, banyak orang yang tidur berantakan, ntah di kursi, depan pintu ada jg yg di meja resepsionisnya, semuanya laki2, untungnya kita ditemani mas eko. Jam 7 bis blm juga datang, mulai bĂȘte..akhirnya 7.30 bis datang dan kami langsung berangkat. Bis berjalan lambat, masuk terminal dan kebanyakan ngetem, lama2 penuh juga. Oia, bisnya ga besar, seukuran metromini gitu, bersih dan tempat duduknya model yg bisa digeser2 *apa ya istilahnya :D* saya dan Bundhoot duduk tepat dibelakang supir, berhubung tipe ekonomi, jadi ga AC tapi full music with TV. Kami adalah penumpang pertama, awalnya si supir nyetel lagu2 batak dengan volume yang nyaris bikin tuli, saya dan bundhoot pasang tampang bĂȘte, mungkin si supir ngerasa kali yaaa..terbukti dengan digantinya lagu, iya siy ganti lagu, lagu westlife hahaha yasud yg penting ngerti, buktinya kita ikutan nyanyi2 secara yang distel VCD-karaoke. Ga berapa lama naik 4 orang ibu, baru aja duduk eh salah seorang dari 4 ibu itu minta lagunya diganti dengan lagu batak *errrr…..* si supir manut aja, digantilah lagu itu dan si ibu senang, ujung2nya beliau ikutan nyanyi hahaha..untungnya ga pake joget. Seiring dengan penuhnya penumpang, bis berjalan lebih cepat, saya berusaha keras utk tidur dan ga peduli dengan nyanyian si ibu, sambil sesekali onlen dan dapet info klo utk menuju ke pematang siantar bisa dengan naik kereta dari medan, ongkosnya pun murah, klo ga salah ingat sekitar 3rb perak semantara bis yang kami tumpangi bertarif 25rb perak.. woot????.. *menyesal*



Sekitar jam 1 kami tiba di parapat, sempat bingung dan bertanya-tanya
kok penumpang yang lain ngga pada turun? Sampai akhirnya sang kernet yang bertanya pada kami dan menurunkan kami dengan angkot yang sudah menunggu siap mengantar ke ajibata, sebuah pelabuhan ferry yang melayani rute parapat-samosir, angkot bertarif 2rb itu mengantar kami hingga depan pintu pelabuhan. Sepiii..begitu gumam saya begitu turun angkot. Tepat didepan pelabuhan banyak berserakan rumah makan, lapar menyergap, tapi agak ragu, tiba2 mata tertuju pada sebuah rumah makan dengan tulisan halal. Bismillah, kami pun mengisi perut di rumah makan itu. Tingkah kami yg ngga jelas sepertinya mengundang salah seorang pengunjung rumah makan utk bertanya, “mau kemana, dik?” – ke samosir pak. “oya? Ada keperluan disana? Dinas kantor?” – oh tidak, kami mau liburan saja disana. “Liburan? Ke samosir? Utk apa? Suara si bapak penuh keheranan, kami lebih heran dan balik bertanya – lho memang kenapa? Bule2 aja banyak yg kesana loh pak. “trus sekarang sedang nunggu?..nunggu rombongan?” Tanya si bapak lagi – tidak, berdua saja. Dan si bapak menatap heran, lalu si bapak menyarankan bila tak bawa kendaraan lebih baik naik kapal kecil saja di pelabuhan satunya. Dengan naik angkot kami menuju pelabuhan satunya, ga begitu jauh tapi lumayan bila ditempuh dengan berjalan kaki. Ada 2 kapal berukuran sedang yang sudah merapat menunggu penumpang, berhubung sudah di beritahu sebelumnya bahwa kami menuju Tomok, maka kami menunggu. 20 menit kemudian kapal tujuan Tomok tiba, dan dimulailah perjalanan kami menyusuri samosir.

Tak sampai 1 jam, kapal merapat di pelabuhan tomok, ongkos kapal 4rb rupiah, lebih murah seribu rupiah dibanding kapal ferry. Ombak dan angin di danau toba ternyata besar juga, sempat bercakap dengan seorang penumpang yang berjilbab, awalnya menanyakan tarif kapal, lalu dari dia lah kami dapat informasi mengenai penginapan murah di samosir dan beberapa info rumah makan halal. Ternyata daerah tuk-tuk merupakan surganya penginapan, dari yang murah sampai mahal, si mba2 tadi merekomendasikan “samosir village” dan “carolina cottage”, si mba itu sangat menyayangkan kenapa kami tidak langsung saja menuju tuk-tuk jadi bisa lebih hemat waktu.. yaa klo kita langsung ke tuk-tuk mana bisa dapet info berharga kyk gini, iya ga?! ;)

Tomok sendiri sangat ramai, banyak toko2 souvenir khas batak dan terdapat beberapa objek wisata disana, selain makam sidabutar, ada juga museum batak dan puppet show “sigale-gale”, utk yang melakukan one-day-trip disarankan utk langsung menuju tomok. Berhubung badan sudah letih, kami memutuskan utk menuju tuk-tuk. Dari tomok menuju tuk-tuk sekitar 10km lagi, tadinya niat mau jalan kaki *hahaha niat banget yaaa* tapi akhirnya urung, jadinya naik ojek, nawar alot sampe 15rb dan dengan PD-nya menyebut “samosir village” sebagai tempat kita menginap. Tukang ojek mengantar kami sampai tujuan, “wewww kerennn..” begitu kesan pertama begitu memasuki “samosir village”, pas cek rate “hmmm......pantes” kita pun pindah lokasi ke “carolina cottage” yang untungnya tidak terlalu jauh dari “samosir village”.

Di “carolina cottage” terdapat 2 jenis kamar, menghadap danau atau diatas bukit. Setelah itung2 dalam hati, rate yang ga beda jauh, dan kami pun memutuskan utk ambil kamar yang menghadap danau, semalam dihargai 120rb utk 2 orang dengan 2 kasur, kamar mandi dengan air panas *ga menyesal ngambil air panas, ternyata di samosir dingiiiin* dan no TV *FYI, semua kamar disini memang tidak dilengkapi TV*. Oia harga segitu tidak termasuk sarapan, no problem..kan udah bawa perbekalan hehehe. Kali ini kami benar2 merasa nyaman dengan kamar hotelnya, suasananya hening *cocok lah buat yang mau hanimun* akhirnya kami memutuskan utk menginap 2 malam di samosir dan berhubung pula blm sempat keliling2 *greattt! Dengan baju yg cuman sepotong dan perbekalan makanan yang cuman utk 1 hari*

Malamnya disempatkan ke restoran yang ada dihotel, harga makanannya masih standar, sempat tergiur pengen pesan disitu jika saja tidak melihat satu menu, akhirnya batal dan kami keluyuran keluar, tepat diujung jalan terdapat rumah makan padang *yeah rite, mau di Jakarta, bekasi bahkan di padangnya sendiri, rumah makan ini selalu ada – hehehe pisss buat orang padang* tulisannya siy “islam murni”, hmm mungkin ini yang dimaksud si mba2 berjilbab di kapal tadi. Kami pun masuk dan langsung memesan nasi goreng.

Hari ini ditutup dengan tidur nyenyak dengan berselimut rapat, berhubung dinginnya hawa di samosir setelah 2 hari merasakan panasnya medan.



Day-4
Rencana hari ke-4 adalah mengunjungi semua objek wisata “wajib” yang ada di pulau samosir, yaitu : makam sidabutar, sigale-gale, museum sisingamangaradja, kampong siallagan, aek si pitu dai, pusuk buhit dan danau sidihoni. Semalam sempat bernegosiasi dengan ojek yang mengantar kita kemarin, dia menawarkan  harga 125rb utk sewa motor dan tambahan 50rb utk tips pengemudinya, weww mahal aja, coba nego ga bisa kurang krn katanya jalan menuju danau sidihoni sangat terjal. Pihak hotel menyediakan jasa penyewaan yang sama dengan harga yang sedikit lebih murah. Tapi buat kami masih terasa mahal. Akhirnya diputuskan “hanya” akan mengunjungi makam sidabutar dan sigale-gale saja di tomok lalu mampir ke ambarita utk mengunjungi kampung siallagan. Berhubung tuk-tuk letaknya ditengah2 antara tomok dan ambarita dan agak sulit kendaraan, maka kami  nyewa jasa ojek lagi, kali ini di-charge 20rb per-org dan diantar sampai depan makam sidabutar. Memasuki kompleks makam kami diwajibkan memakai ulos, berhubung ga pake guide, kami curi dengar aja dari rombongan sebelah, tapi ga dapet cerita komplitnya hehehe…yg pasti foto2 lah mumpung pake ulos ;)


Selepas dari kompleks pemakaman kami menyusuri jalan yang penuh sesak dengan para penjual, penjualnya aja yg banyak yang belinya Cuma beberapa gelintir. Oia, masuk kompleks pemakaman sidabutar dikenakan sumbangan sukarela. Tidak jauh dari situ terdapat museum batak, yang berupa contoh rumah adat batak yang bisa kita masuki, didalamnya terdapat beragam kerajinan tangan khas batak, disini pun dikenakan sumbangan sukarela. Dari museum batak kami beranjak ke puppet show sigale-gale, yang konon menurut legenda merupakan perwujudan dari putra kesayangan seorang raja yang tewas ketika berperang, saking rindunya akan sang anak, si raja sampai jatuh sakit, lalu diadakanlah  sayembara utk membuat boneka/patung yang mirip anaknya, dan jadilah sigale-gale ini. Masih konon katanya, dulu kala boneka ini bisa bergerak, dan ketika sang raja melihat si patung bisa bergerak, sang raja pun wafat dengan tenang. Sekarang sigale-gale masih bisa bergerak dengan bantuan tali2 yang diikat dibelakang patung, utk membuat patung ini bergerak, kita diharuskan membayar 60rb rupiah per-sekali pertunjukan, kebetulan kali itu ada 3 rombongan *termasuk kami berdua* yang mau melihat boneka itu bergerak, jadilah kami saweran 20rb per-rombongan. Begitu alunan musik batak bergema, sigale-gale pun bergerak, hanya bagian tangan dan mata yg sesekali berkedip. Taklama kemudian, beberapa ibu2 yg termasuk dalam rombongan yang lain ikut turun dan menari disekitar sigale-gale.

Selesai menyaksikan sigale-gale beraksi, kami pun berjalan2 disekitaran pelabuhan tomok, bundhoot lapar tapi saya masih tahan diri, memilih minum saja. Dari situ kami menuju ambarita, kali ini ada angkutan umum yang melayani rute tomok-ambarita, tarifnya 5rb rupiah, berhubung dianterin sampai depan kampong siallagan, obyek wisatanya berupa meja batu yang konon dulunya merupakan sejenis pengadilan klo jaman sekarangnya. Disini lebih sepi daripada di tomok, para penjual souvenir banyak yang duduk sambil menunggu pembeli, kasihan. Berhubung hanya satu objek wisata di ambarita, kami pun memutuskan utk kembali ke tuk-tuk, nah kali ini sempat bingung bagaimana caranya kembali ke tuk-tuk..ya berhubung ojek merupakan satu-satunya sarana transportasi yang siap setiap saat, maka kami pun nyewa ojek utk kembali ke penginapan, tarif ojek kali ini 20rb.

Tuesday, June 22, 2010

Medan : 4-8 Juni 2010 (1)

Day-1
Kali ini saya berkesempatan menjelajah medan, dengan mengambil cuti 3 hari kerja 2 di approve satu harinya ijin sakit by phone hehehe , dapet penerbangan pagi jam 7, jumlah peserta yang menyusut dari 7 jadi 2 orang, diantara pengen berangkat dan ngebatalin. Tapi akhirnya berangkat juga, berdua aja dengan bundhoot. Pesawat take-off  dan landing dengan on time ditengah mendung, sampai juga kita di medan yippiiieee….


Turun pesawat, narsis dulu ditulisan yang ada medannya (haha) trus bingung… ga ngerti mau kemana dan ngapain, secara sebelumnya bergantung pada satu orang medan yang batal berangkat,jadilah kita nongkrong lah di salah satu restoran ayam goreng yang belom buka dan kita dengan culunnya nungguin diresto buka didepannya *eh ga depan banget deh, agak kepipir dikit lah hehe*  setelah tu resto buka, barulah kita beranjak, berdalih pesan makan pdhal sedang menyusun strategi *halaaaah*. Bundhoot melayani beberapa panggilan telepon, saya browsing nyari2 info via um gugel via layar 1.8”, info yang saya dapat lumayan lengkap, secara bandara polonial letaknya ditengah kota, so amat mudah mendapatkan transportasi umum. Cuman ya itu dia..mau kemana??? Akhirnya bundhoot mendapat pencerahan dari salah seorang member kampung  yang kebetulan sudah 1 bulan berdomisili disana yang punya info ada rumah petak yang dikontrakan didaerah setiabudi. Meluncurlah kami kesana dengan naik becak motor, yang dengan alot kami tawar jadi 15rb doang utk mengantar ke alamat tujuan. Bundhoot sempat merasa kasian krn jarak yang lumayan jauh, tapi buat saya deal is a deal! Kejam yaaa…haha. Singkat cerita sampai juga di rumah kontrakan yang dimaksud, saya kurang sreg dan kita ga jadi sewa rumah itu, iseng saya baca itinerary yang udah dibawa tapi ga sempat dicolek dan dari situ dapet info klo hotel banyak bertebaran di daerah sisingamangaradja (di singkat SM aja yaa, biar ga pegel ngetiknya) dengan angkot, bergeraklah kami kesana, ongkos angkot murah cuman 3rb perak utk jarak tempuh yang kurleb sama dengan jarak tempuk becak motor yang tadi, turun diperempatan sebelum taman makam pahlawan trus mulailah menyisiri sepanjang jalan SM, hunting for a hotel. Ternyata  di jalan SM itu terdapat mesjid raya yang sangat terkenal seantero medan, disebelahnya ada lapangan serbaguna nah disebelah lapangan kita menemukan hotel yang lumayan, niatnya mau cek harga dan liat kamar doang, tapi akhirnya nginep juga disana, udah cape juga. Rate-nya lumayan murah, utk kamar dengan fan,tv dan kamar mandi dalam, kami cukup membayar Rp 110rb, sudah incl. breakfast dan tax. Utk yang AC hanya Rp 145rb, kami ambil yang fan.. klo ga salah kamar AC  sdg full saat itu. Nama hotelnya Sri Deli, bangunan tua, a li’l bit spooky, tapi ya sudah lah. Toh dari pengalaman yang dulu2, hotel fungsinya buat tidur doang, secara waktu lebih banyak dihabiskan utk jalan dan jalan dan jalan ………..gag penting juga hotel dengan fasilitas mewah kan?! ;)

Kami cukupkan istirahat siang itu, berhubung medan terlalu panas utk dieksplor siang hari. Setelah matahari agak redup barulah kami bergerak, tujuan utama adalah lapangan merdeka, naik apa? Resepsionis hotel yang kami tanya menyarankan naik becak motor atau angkot dengan label “Mister X” sempet geli sendiri dengan label si angkot. Tapi berhubung udah punya peta dalam kota yang didapat dari bandara, kami memutuskan jalan kaki… keliatannya deket kok, sembari sight-seeing lah, supaya lebih mengenal kota medan *halaaaah* dengan PD yang tinggi kami jalan dan jalan dan jalan…ujung2nya malah memutar lebih jauh xixixixi tapi sampai juga dilapangan merdeka. Ekpektasi yang saya bayangkan terlalu tinggi utk si lapangan ini, saya kira bakal menemukan makanan khas medan yang asing dan blom pernah saya coba, eh ujung2nya malah lebih banyak restoran fast-food disinih :(
Hari pertama di medan kami habiskan dengan menyicipi durian medan, langsung makan ditempat dengan ditraktir oleh salah satu plurk-er medan, mas eko… tengkiyu mas!









Day-2

Setelah semalem ngga bisa tidur nyenyak *blm adaptasi dengan tempat baru*, hari kedua ditargetkan utk mengunjungi semua tempat wisata yang ada di medan, target pertama mesjid raya medan yang kebetulan cuman selemparan doang dari tempat kita menginap *selemparan mata memandang maksudnya*.  Wew, ga banyak yang bisa di-eksplor selain mengagumi bentuk dan dekorasi bangunannya, sampai akhirnya bertemu yusuf, seorang pengurus masjid yang akhirnya menjadi guide dadakan kita, secara dia paham setiap detil bangunan dan sejarah masjid itu. Beranjak dari sana kami menuju istana maimun yang letaknya lumayan berdekatan dengan masjid raya. Jalan kaki tentunya


Masuk istana maimun dikenakan sumbangan sukarela, dan seperti istana pada umumnya, pastinya ada singgasana kerajaan, cuman sayang ngga bisa diduduki jadi hanya berfoto saja. Oia tak jauh dari istana maimun ada meriam puntung, yang konon alkisah meriam ini merupakan penjelmaan dari adik putri hijau dari kerajaan deli yang berubah menjadi meriam dalam mempertahankan istana dari serbuan  raja aceh yang ditolak pinangannya oleh sang putri. Menurut saya, meriam puntung ini lebih menarik dibanding dengan istana maimun :D tidak adanya guide juga jadi kendala utama utk bisa menikmati sejarah istana maimun, sangat disayangkan.

Selepas dari istana maimun, kami pun bergerak menuju rumah Tjong Afie, beliau ini merupakan cina keturunan yang sangat dekat dengan raja deli dan banyak berjasa dalam sejarah kota medan. Untuk dapat masuk kedalam rumah ini, kami dikenakan tiket masuk seharga 35rb rupiah, nah di rumah tjong afie ini tersedia guide yang menjelaskan detil tiap sudut rumah sampai foto dan sejarah dari bangunan itu. Dari rumah tjong afie, kami sempatkan makan siang di Tip-Top Restoran *es krimnya maknyuusss* tak lama kemudian mas eko pun bergabung bersama kami. Selesai makan, perjalanan kami lanjutkan. Kali ini mengunjungi jembatan gantung yang melintasi stasiun medan tak jauh dari lapangan merdeka.




Hari ini berakhir dengan kopdar sambil menikmati mie aceh titi bobrok.